Inilah 5 Kisah Hebat Sejarah Persib Bandung Paling Monumental [ Episode 1 ]

Sejarah Persib Bandung Juara Perserikatan di Tahun 1986

Sejarah Persib Bandung Juara Perserikatan di Tahun 1986 – 

www.maungbandung.comPERSIB BANDUNG adalah salah satu klub tradisional dalam sepakbola Indonesia. Usianya sudah puluhan tahun, dan banyak cerita yang sudah ditoreh. Jurnalis Renalto Setiawan untuk www.maungbandung.com dari fourfourtwo.com akan berikan anda informasi kembali mengenang lima peristiwa yang paling dikenang untuk anda.

83 tahun, lima gelar juara Perserikatan, satu gelar juara Liga Indonesia, satu gelar juara Indonesia Super League,dan satu gelar juara Piala Presiden 2015. Persib Bandung jelas merupakan salah satu sejarah besar sepakbola Indonesia. Dengan usia setua itu, tentu saja banyak kisah – baik yang bahagia maupun sedih – yang telah dialami oleh Persib Bandung.

5 Kisah Hebat Sejarah Persib Bandung Paling Monumental [ Episode 1 ]

Dalam satu waktu Persib, pernah membuat jalanan di kota Bandung dipenuhi oleh orang-orang yang dilanda euforia. Dari tukang sampah hingga pegawai kantoran berjalan beriringan, mengenakan jersey biru kebanggaan Persiba tau aksesoris apapun yang berbau biru ala Maung Bandung, dan meneriakkan kalimat yang sama, “Kita bangga dengan Persib!” Kita? Kita adalah BOBOTOH, julukan penggemar Persib, tak peduli tua-muda, kaya-miskin, dan perbedaan lain yang normalnya memberikan jarak.

Dalam waktu lainnya Persib juga pernah sangat akrab dengan rasa sakit. Bahkan, tak jarang rasa sakit yang dialami Persib terjadi dalam waktu yang sangat lama. Persib pernah menantikan gelar selama 25 tahun (1961-1986), meratapi nasib buruk mereka hingga terdegradasi sebelum kembali bangkit.

Beberapa dekade kemudian, meski tak sampai degradasi, siklus tersebut kembali terulang. Persib menantikan gelar selama 19 tahun untuk kembali menjadi yang terbaik di tanah air.

Menariknya, meski beberapa kali mengalami kegagalan dan menemui masa suram, Persib sepertinya tak pernah merasa menderita. Seolah percaya bahwa penderitaan hanyalah sebuah pilihan, Maung Bandung selalu punya cara untuk bangkit. Dengan keadaan seperti itu, tak heran jika kisah-kisah tentang kehebatan Persib sering dibicarakan secara turun-temurun layaknya dongeng sebelum tidur.

Lalu, kisah-kisah yang mana saja yang layak untuk terus-terusan dibicarakan dan dijadikan semacam “warisan budaya ” seperti dongeng sebelum tidur itu?

1.Juara Perserikatan 1986: Gol Djanur yang menghakhiri penantian selama 25 tahun.

“Lebih dari 100 Bis Berarak ke Jakarta,” tulis Pikiran Rayat, salah satu surat kabar terbesar di Jawa Barat, menjelang pertandingan final Perserikatan 1986 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, antara Persib Bandung melawan Perseman Manokwari.

Itu merupakan pertandingan final ketiga Persib di kompetisi Perserikatan dalam jangka waktu yang berurutan. Pada dua pertandingan final sebelumnya (1983 dan 1985), Persib dua kali kalah dari PSMS Medan. Dua-duanya terjadi melalui drama adu penalti yang menyakitkan, membuat penantian mereka untuk menjadi juara bertambah menjadi 25 tahun.

“Nista, Maja, Utama,” kata Ateng Wahyudi, ketua Umum Persib, menjelang pertandingan final. Itu adalah peribahasa Sunda yang kurang lebih berarti “Sudah keterlaluan, tak layak diberi ampun lagi karena sudah cukup perilaku jeleknya”. Peribahasa yang konon mujarab karena mampu mengungkit semangat pemain-pemain Persib di laga final.

Bobotoh pun dengan antusias berangkat ke Jakarta, membuat Bandung menjadi seperti kota mati. Bahkan, beberapa jam sebelum pertandingan digelar, lagu “Halo-Halo Bandung” sudah berkumandang di Senayan.
Dan saat pembawa acara mengatakan bahwa bola yang akan digunakan dalam pertandingan final tersebut merupakan bola yang sama dengan bola yang akan digunakan pada Piala Dunia 1986, puluhan ribu Bobotoh yang sudah memadati Senayan mengepalkan tangan ke udara. Sore itu, mereka yakin Persib akan memenangkan pertandingan sekaligus mengakhiri penantian selama 25 tahun.

Pada awal pertandingan, Persib langsung tampil menyerang. Permainan satu-dua sentuhan khas Persib, yang membuat mereka mendapat julukan ” Brasil-nya Indonesia “, langsung mereka peragakan. Tapi, Perseman memberikan perlawanan yang cukup alot. Anak-anak asuh Paul Cumming tersebut melakukan pressing ketat, tak membiarkan Persib memainkan gaya sepakbola satu-dua sentuhan andalannya dengan leluasa, Hingga turun minum, keadaan tak berubah.

Gol yang ditunggu-tunggu Persib selama 25 tahun akhirnya datang juga pada menit ke-77. Tendangan mendatar Djanur, sapaan akrab Djajang Nurjaman, yang mengarah ke sudut sempit tak mampu diselamatkan oleh Markus Woof, kiper Perseman. Senayan bergemuruh. Energi luar biasa para Bobotoh diluapkan dalam berbagai macam ekspresi. Djanur dan rekan-rekannya berselebrasi ke arah Bobotoh.

Setelah gol tersebut, diiringi kembang api yang menyala di tribun Selatan, Persib bermain semakin tenang. Mereka terus berusaha untuk mengontrol jalannya pertandingan. Dan saat wasit John Charles meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, kedudukan tak berubah. Persib menang. Bobotoh pun merangsek ke lapangan.

“Kamu hebat!” kata salah seorang bobotoh kepada Djanur.

Sementara itu jauh dari Senayan, warga Bandung yang tersisa mencoba menghidupi kotanya yang sepi. Mereka keluar rumah, menjamah Jalan Merdeka, Jalan Asia Afrika, dan Jalan Dago. Sambil menanti para pahlawannya beserta rombongannya pulang membawa gelar yang sudah dinantikan selama seperempat abad, mereka melakukan konvoi dengan mobil pick-up, sepeda motor, dan truk.

Teriakkan “Persib juara!” terdengar mengiringi hujan yang membasahi hampir setiap sudut kota Bandung pada saat itu.

Loading...

Leave a Reply